Aku sering merasa kesepian. Selalu...
Sore kemarin...
Di bawah teduh awan yang mendung, dalam langit yang mulai gelap dan menghitam, kepada seorang teman yang telah aku anggap dekat seperti adikku, aku katakan: AKU KESEPIAN. Aku katakan perasaanku tentang hati orang-orang, mereka yang mendekat saat kita menjadi hebat dan tidak ada yang mengunjungi saat kita bukan lagi apa-apa.
Aku melihat manusia dengan sudut pandang yang sinis. Terkadang ironis. Hiperbola. Personifikasi. Oh, sudahlah, ini kita bukan bercerita tentang majas. Aku melihat manusia sebagai sekelompok makhluk yang hidup dari satu kepentingan kepada kepentingan yang lain. Saat dia perlu, dia hadir, saat tidak, maka semuanya serasa sampah.
Kepada adikku itu, aku katakan juga bahwa temanku tidak banyak. Aku tidak tahu harus mengeja nama siapa saat aku berada di dalam lubang sunyi itu. Sedari dulu, aku hidup di dalam dunia yang begitu sepi. Teman-teman terbaikku, tidak hadir dalam jarak yang berdekatan, kecuali cuma sedikit dari mereka.
Aku butuh banyak orang yang berkumpul bersamaku bukan karena
mereka sedang membutuhkan aku, namun aku ingin seseorang yang memang
menjadikannya
aku sebagai teman yang mereka sayangi. Masalahnya adalah aku ini
pemalas. Aku malas membina hubungan, aku malas untuk memulai. Aku
terlalu takut, gugup, tidak percaya diri untuk mulai memberikan tangan sebagai awal mula persahabatan. Sebangsa, aku ini PECUNDANG
Hidupku cuma terbentuk dari ruang
3×3 meter dengan pendingin ruangan yang sesekali meneteskan air karena
bocor. Berkeliling tumpukan kertas yang terserak. Kabel yang semberaut.
Air mineral. Dan tisu-tisu bekas yang belum juga masuk ke dalam
tong-tong sampah terdekat.
Sore kemarin...
Di bawah teduh awan yang mendung, dalam langit yang mulai gelap dan menghitam, kepada seorang teman yang telah aku anggap dekat seperti adikku, aku katakan: AKU KESEPIAN. Aku katakan perasaanku tentang hati orang-orang, mereka yang mendekat saat kita menjadi hebat dan tidak ada yang mengunjungi saat kita bukan lagi apa-apa.
Aku melihat manusia dengan sudut pandang yang sinis. Terkadang ironis. Hiperbola. Personifikasi. Oh, sudahlah, ini kita bukan bercerita tentang majas. Aku melihat manusia sebagai sekelompok makhluk yang hidup dari satu kepentingan kepada kepentingan yang lain. Saat dia perlu, dia hadir, saat tidak, maka semuanya serasa sampah.
Kepada adikku itu, aku katakan juga bahwa temanku tidak banyak. Aku tidak tahu harus mengeja nama siapa saat aku berada di dalam lubang sunyi itu. Sedari dulu, aku hidup di dalam dunia yang begitu sepi. Teman-teman terbaikku, tidak hadir dalam jarak yang berdekatan, kecuali cuma sedikit dari mereka.
Aku butuh banyak orang yang berkumpul bersamaku bukan karena
mereka sedang membutuhkan aku, namun aku ingin seseorang yang memang
menjadikannya
aku sebagai teman yang mereka sayangi. Masalahnya adalah aku ini
pemalas. Aku malas membina hubungan, aku malas untuk memulai. Aku
terlalu takut, gugup, tidak percaya diri untuk mulai memberikan tangan sebagai awal mula persahabatan. Sebangsa, aku ini PECUNDANG
Di taman , saat aku duduk, aku menatap ke mata orang-orang, berusaha mengeja
setiap detail retina mereka, melihat tentang masa-masa yang mereka
habiskan dalam hidup. Apakah ada kesetiaan di sana ????, ketulusan, kesetiakawanan....?? Apakah senyum dan tawa mereka, itu hadir dari sekian tahun persahabatan atau cuma terbentuk dari suatu hubungan yang sarat kepentingan....?? ungkap ku bergumam sendiri dalam hati.
Aku iri dengan orang-orang yang hidup dengan banyak teman. Orang-orang yang selalu dibantu oleh kebanyakan orang.
Aku kesepian. Di antara milyaran manusia, mungkin teman baikku cuma mampu dihitung
dengan jemari tangan. Aku memang tertutup, tetapi bukan justifikasi
bahwa aku tidak membutuhkan orang-orang, terlebih sebenar-benarnya
seorang teman.


